Literasi

Meningkatkan Kemampuan dan Motivasi Belajar Peserta Didik dengan Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dalam Menulis Poster

FIVIKEM RAHAYU

lahir di Tanah Datar, Sumatera Barat tepatnya di Jorong Tabek, Kecamatan Pariangan pada tanggal 05 Juni 1985. Melaksanakan pendidikan dasar di SDN 29 Cubadak pada tahun 1992-1998.
Melanjutkan pendidikan di SLTPN 3 Batusangkar pada tahun 1998-2001 dan di SMAN 1 Pariangan pada tahun 2001-2004.
Pendidikan terakhir S-1 di Universitas Negeri Padang  Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada tahun 2004-2008.
Mengajar pertama pada tahun 2009 di MAN 2 Tanah Datar lebih kurang 10 tahun.
Tahun 2019 sampai sekarang mengajar di MTsN 3 Lima Puluh Kota sesuai penempatan pertama CPNS dan berdomisili juga di Kabupaten Lima Puluh Kota.

Karya penulis pernah hadir dalam Antologi Opini Pendidikan “Kisah-Kisah Inspiratif Pembelajaran Jarak Jauh” (2020), Antologi Pantun “Pantun Madrasah Hebat Bermartabat” (2021) dan Antologi Puisi “Lisan Sakti Mahaguru” (2022).

Motto hidup penulis, Jangan membayangkan sesuatu yang belum terjadi, tetapi berusahalah semaksimal mungkin ketika harus menghadapinya.

Meningkatkan Kemampuan dan Motivasi Belajar Peserta Didik dengan Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) dalam Menulis Poster

Pengalaman mengajar seorang guru (penulis) bisa dituangkan dalam bentuk cerita praktik baik atau yang sering kita kenal dengan istilah Best Practice. Dalam hal ini, cerita praktik baik penulis bersumber dari pengalaman saat melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Aksi 2 pada tanggal 10 dan 14 September 2022. Best Practised ini disusun dengan menggunakan metode STAR (Situasi, Tantangan, Aksi, Refleksi Hasil Dan Dampak). Maksudnya adalah situasi yang tergambar di lapangan, tantangan yang ditemui saat pelaksanaan paksi, proses pelakaksanaan aksi serta refleksi hasil dan dampak setelah pelaksanaan aksi tersebut.
Model pembelajaran yang digunakan pada saat pelaksanaan praktik pembelajaran aksi 2 ini adalah Project Based Learning (PjBL) pada elemen menulis dengan materi poster. Fase yang diambil adalah Fase D pada peserta didik kelas VIII.1. Model pembelajaran PjBL adalah model pembelajaran yang terpusat pada peserta didik untuk membangun dan mengaplikasikan konsep dari proyek yang dihasilkan dengan mengeksplorasi dan memecahkan masalah di dunia nyata secara mandiri yang dimulai dengan masalah dan solusi dalam bentuk proyek yang dihasilkan peserta didik (Afriana, 2015).
Semenjak pandemi covid 19 melanda, pembelajaran harus dilaksanakan secara daring. Selama pembelajaran daring, media yang bisa dimanfaatkan salah satunya adalah gawai. Akan tetapi, kenyataan yang ditemukan di lapangan adalah pemanfaatan gawai yang tidak tepat sasaran. Gawai banyak dimanfaatkan peserta didik untuk kebutuhan sosial media dan bermain game. Apalagi pemanfaatan gawai yang di luar pengawasan orang tua, menyebabkan peserta didik terjebak dalam dunia maya yang tidak ada habisnya. Gawai sebagai salah satu sarana untuk belajar secara tatap maya, hanya sebuah alasan klise untuk bisa memenuhi kebutuhan kuota yang tak ada batasnya. Hal itu tentu membawa dampak negatif dalam keseharian peserta didik.
Kebiasaan yang sudah terbangun semenjak pandemi ini, menimbulkan masalah yang cukup serius pada saat pembelajaran tatap muka mulai diberlakukan. Masalah yang teridentifikasi di antaranya peserta didik kurang bersemangat dan cenderung pasif dalam menghadapi pembelajaran karena fokus berkurang. Hal itu mengakibatkan kemampuan dalam belajar turun drastis dan hasil belajar tidak sesuai harapan. Menurut Heryanto Sutedja (dalam Muthazim 2020) mengemukakan ciri siswa yang malas belajar sebagai berikut: (1) melamun saat belajar, (2) bermain-main saat belajar, (3) suka mengganggu suasana kelas, (4) prestasi belajar sangat rendah, (5) tidak pernah serius dalam belajar.
Menurut Muhson (dalam Lestari 2019) guru masih kesulitan dalam membuat media pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Keberadaan media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran merupakan suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Guru juga menyadari bahwa tanpa media, materi pembelajaran akan sulit untuk dapat dicerna dan dipahami oleh siswa, apalagi bila materi pembelajaran yang harus disampaikan tergolong rumit dan kompleks. Untuk itu penggunaan media mutlak harus dilakukan agar materi dapat sampai ke peserta didik secara efektif dan efisien. Akan tetapi, ketika guru belum maksimal memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran, model pembelajaran yang digunakan belum inovatif, keinginan guru untuk menguprade pengetahuan tentang model pembelajaran inovatif dan cara menerapkannya dalam pembelajaran tergolong rendah, tentu menjadi akar penyebab masalah dari kurangnya motivasi peserta didik itu sendiri untuk belajar.
Berdasarkan hal itulah, penulis ingin membagikan pengalaman praktik baik selama melaksanakan PPL Aksi 2 kepada teman-teman guru agar bisa menjadi motivasi untuk melaksanakan pembelajaran yang baik, agar kemampuan peserta didik yang mulai berkurang kembali bisa ditingkatkan, hasil yang diharapkan bisa tercapai. Salah satunya dengan cara menciptakan pembelajaran yang menarik bagi peserta didik, untuk memperoleh keterampilan-keterampilan pada pembelajaran abad 21 yang secara eksplisit harus diajarkan. Secara singkat, pembelajaran abad ke-21 memiliki prinsip pokok bahwa pembelajaran harus berpusat pada siswa, bersifat kolaboratif, kontekstual, dan terintegrasi dengan masyarakat. Peran guru dalam melaksanakan pembelajaran abad ke-21 sangat penting dalam mewujudkan masa depan anak bangsa yang lebih baik (Zubaidah, 2016).
Sebagai peserta PPG Dalam Jabatan Kementerian Agama Angkatan 1 tahun 2022, sebelum memulai PPL Aksi 2 ini, terlebih dahulu penulis menyusun perangkat pembelajaran sesuai dengan materi pada program semester yang sedang berjalan. Perangkat pembelajaran ini diawali dengan penyusunan modul ajar yang terdiri dari penentuan Capaian Pembelajaran (CP), tujuan pembelajaran, indikator, Profil Pelajar Pancasila, dan rangkaian kegiatan mulai dari pendahuluan, inti dan penutup serta sumber yang dijadikan rujukan. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan penyusunan bahan ajar, LKPD, media pembelajaran yang akan digunakan saat praktik dan alat evaluasi. Setelah itu, baru penulis melaksanakan PPL Aksi 2 dalam dua kali pertemuan, sesuai dengan rentang waktu yang telah ditentukan.
Tantangan yang penulis hadapi untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan pada pelaksanaan PPL Aksi 2 adalah penulis agak kewalahan pada saat kegiatan presentasi akan dimulai. Peserta didik enggan untuk melakukan presentasi di depan kelas pada saat urutan kelompok terpanggil. Umumnya mereka belum siap untuk melaksanakan presentasi. Selain itu, pada kegiatan penutup untuk simpulan dan refleksi, peserta didik banyak yang kurang aktif, hal ini terlihat pada peserta didik menanggapi atau bertanya hanya beberapa orang saja yang aktif.
Pihak-pihak terlibat yang turut andil dalam suksesnya pelaksanaan PPL Aksi 2 ini di antaranya adalah penulis sendiri sebai guru yang mengajar, peserta didik kelas VIII.1 sebagai pihak yang diajar, teman sebaya yang membantu dalam pengambilan video pembelajaran yang berjumlah 2 orang. Selain itu, Wakil bidang kurikulum yang memberi izin untuk pelaksanaan PPL aksi 2, dan Kepala Madrasah yang sangat mendukung dalam kegiatan PPG ini agar berjalan dengan lancar dan berhasil sampai akhir.
Tantangan-tantangan yang ditemui dalam pelaksanaan PPL Aksi 2 harus diatasi dengan solusi yang tepat. Seorang guru harus bisa kreatif dan inovatif untuk mencari solusi dari setiap permasalahan yang ditemui. Menurut Rustaman (2001) kreatif atau kreativitas dapat didefinisikan sebagai kemampuan mencipta, sedangkan inovatif berarti kemampuan untuk memperkenalkan sesuatu yang baru. Kreatif dan inovatif bisa diwujudkan penerapan model pembelajaran PjBL, memanfaatkan teknologi yang tepat untuk mendukung penerapan model PjBL, memakai media pembelajaran yang menarik, pengelolaan kelas yang baik dan peran guru sebagai fasilitator dan motivator yang baik bagi peserta didik. Selain itu, menciptakan pembelajaran yang HOTS dengan penerapan 4C dalam seluruh rangkaian kegiatan pembelajaran, mulai dari awal sampai akhir pembelajaran.
Langkah-langkah penerapan model PjBL pada materi penulisan poster dalam Kemdikbud (2014) dalam Afriana menyatakan fase pertama adalah penentuan pertanyaan mendasar (start with essential question). Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan siswa dalam melakukan suatu aktivitas. Pertanyaan disusun dengan mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dandimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Pertanyaan yang disusun hendaknya tidak mudah untuk dijawab dan dapat mengarahkan siswa untuk membuat proyek. Pertanyaan seperti itu pada umumnya bersifat terbuka (divergen), provokatif, menantang, membutuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thinking), dan terkait dengan kehidupan siswa. Guru berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik. Dalam proses penerapan sintaks ini peserta didik disajikan tayangan video tentang kegiatan vaksinasi yang sepi peminat. Setelah itu, peserta didik diminta menetukan pertanyaan mendasar dalam bentuk rumusan masalah berdasarkan masalah dan solusi yang tepat dari video vaksinasi tersebut. Solusi disesuaikan dengan kegiatan pengerjaan proyek poster yang akan dikerjakan peserta didik.

Fase kedua adalah menyusun perencanaan proyek (design project). Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dan peserta didik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan kegiatan yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan penting, dengan cara mengintegrasikan berbagai materi yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek. Dalam praktiknya di kelas peserta didik melakukan diskusi untuk mendesain proyek penulisan poster mulai dari pemilihan tema poster, tujuan penulisan poster dan pemilihan kalimat-kalimat menarik yang akan dituliskan dalam proyek poster.

Fase ketiga menyusun jadwal (create schedule). Guru dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal kegiatan dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain; membuat jadwal untuk menyelesaikan proyek, menentukan waktu akhir penyelesaian proyek, membawa siswa agar merencanakan cara yang baru, membimbing siswa ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, meminta siswa untuk membuat penjelasan (alasan) tentang cara pemilihan waktu. Jadwal yang telah disepakati harus disetujui bersama agar guru dapat melakukan monitoring kemajuan belajar dan pengerjaan proyek di luar kelas.

Fase keempat memantau peserta didik dan kemajuan proyek (monitoring the students and progress of project). Guru bertanggung jawab untuk memantau kegiatan peserta didik selama menyelesaikan proyek. Pemantauan dilakukan dengan cara memfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain guru berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses pemantauan, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan kegiatan yang penting. Dalam pelaksanaannya di lapangan, pemantauan proyek peserta didik dilakukan di luar jadwal tatap muka,di antara jeda pertemuan pertama dan kedua dengan memanfaatkan salah satu gazebo yang terletak di depan ruang perpustakaan MTsN 3 Lima Puluh Kota.

Fase kelima adalah penilaian hasil (assess the outcome). Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar kompetensi, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya. Pelaksanaanya di kelas peserta didik menguji proyek penulisan poster yang telah selesai dikerjakan dalam bentuk presentasi di depan kelas oleh masing masing-masing kelompok. Peserta yang lain diminta menanggapi hasil presentasi tersebut dalam bentuk saran atau pertanyaan.

Fase keenam adalah evaluasi pengalaman (evaluation the experience). Pada akhir proses pembelajaran, guru dan peserta didik melakukan refleksi terhadap kegiatan dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan proyek. Guru dan dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.

Bukti autentik pelaksanaan setiap fase pada penerapan model pembelajaran PjBL terdapat dalam pengambilan foto dan video pembelajaran yang sudah dilaksanakan. Proses pengambilan foto dan video saat proses pembelajaran berlangsung ini melibatkan beberapa orang teman sebaya. Selain itu, berapa rekan guru lain yang bersedia menukar jadwal pembelajaran dengan jadwal yang diminta penulis. Alat yang diperlukan dalam proses pengambilan gambar saat proses pembelajaran di antaranya kamera dari gawai penulis dan teman sejawat, tripod, LCD proyektor, laptop, kabelan dan kuota internet.
Hasil dari seluruh proses rangkaian kegiatan di atas menghasilkan dampak yang luar biasa. Peserta didik mulai terbiasa aktif dalam proses pembelajaran yang terlihat pada saat diskusi kelompok, presentasi         di depan kelas dan penyampaian pendapat pribadi dalam bnetuk simpulan dan refleksi akhir pembelajaran. Selain itu, penguatan karakter profil pelajar pancasila juga terlihat seperti berakhlak mulia saaat menghargai pendapat teman yang berbeda, bergotong royong untuk menyelesaikan tugas kelompok, menyumbangkan ide yang kreatif dalam mendesaian proyek poster, berpikir kritis saat menanggapi atau menyampaikan pendapat terhadap hasil presentasi dan pertanyaan teman, dan mandiri pada saat menyelesaikan tugas perorangan.
Pada saat melakukan penilaian dan analisis terhadap pengetahuan, keterampilan dan sikap berdasarkan alat evaluasi yang telah diujikan kepada peserta didik, hasilnya sangat efektif. Hasil analisis yang diperoleh adalah pertama, hasil analisis penilaian untuk pengetahuan peserta didik diperoleh rata-rata nilai 97 dengan ketuntasan 100%. Kedua, hasil analisis penilaian untuk keterampilan diskusi peserta didik diperoleh rata-rata nilai 92 dengan ketuntasan 100%. Ketiga, hasil analisis penilaian untuk keterampilan presentasi peserta didik diperoleh rata-rata nilai 92 dengan ketuntasan 100%. Keempat, hasil analisis untuk penilaian proyek pembuatan poster peserta didik diperoleh rata-rata nilai 87 dengan ketuntasan 100%. Kelima, hasil analisis untuk penilaian sikap peserta didik diperoleh rata-rata nilai 87 dengan ketuntasan 100%.
Ketercapaian tujuan pembelajaran ini, mendapatkan respon positif dan dukungan yang luar biasa dari teman sejawat, wakil kepala madrasah, dan kepala madrasah. Mereka sangat mengapresiasi atas capaian pembelajaran yang sangat baik dalam menulis poster dengan menerapkan model pembelajaran inovatif  PjBL ini.  Mereka berharap agar hasil pembelajaran efektif ini bisa dihasilkan juga oleh seluruh guru.
Keberhasilan ini tidak lepas dari kelengkapan perangkat pembelajaran sudah mendapat penyempurnaan dari dosen dan guru pamong, sarana dan prasara yang mendukung, kemauan penulis untuk berinovasi menciptakan pembelajaran yang menyenangkan untuk peserta didik, dan dukungan dari semua pihak yang terlibat, walaupun masih ada kendala-kendala yang dialami.
Berdasarkan seluruh rangkaian proses pembelajaran ini, dapat disimpulkan bahwa untuk menciptakan pembelajaran inovatif yang menyenangkan bagi peserta didik, seorang guru harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan perencanaan yang matang dan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan tersebut. Mulai dari penyusunan perangkat pembelajaran, pemilihan media pembelajaran yang menarik, pemanfaatan teknologi dan kemauan guru untuk terus belajar dan memperbaruhi pengetahuan dan pemahaman tentang model pembelajaran inovatif abad 21. Selain itu, guru harus rajin melakukan refleksi diri dari proses yang telah dilakukan agar pelaksanaan aksi berikutnya bisa semakin baik.

Daftar Pustaka

Afriana, J. (2015). Project based learning (PjBL). Makalah untuk Tugas Mata Kuliah Pembelajaran IPA Terpadu. Program Studi Pendidikan IPA Sekolah     Pascasarjana. Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.

Lestari, Yani. 2019. Meningkatkan Kompetensi Guru dalam Membuat Video Pembelajaran Inovatif Melalui Kegiatan Workshop di SDN 1 Pajukungan Semester II Tahun Ajaran 2018-2019”. Sagecious Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Sosial, 6 (1): 37-40.

Muthazim, L. (2020). Konseling Islam dengan media Komik untuk mengatasi malas belajar agama seorang anak di Desa Jenggrik, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah (Doctoral dissertation, UIN Sunan Ampel Surabaya).

Zubaidah, S. (2016, December). Keterampilan abad ke-21: Keterampilan yang diajarkan melalui         pembelajaran. In Seminar Nasional Pendidikan (Vol. 2, No. 2, pp. 1-17).

Zuriah, N., Sunaryo, H., & Yusuf, N. (2016). IbM guru dalam pengembangan bahan ajar kreatif inovatif berbasis potensi lokal. Jurnal Dedikasi, 13.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Open chat
Need Help ?
Assalamu'alaikum ?